![]() |
| @puput_rias Collection |
Masa berlalu, zaman berubah dan aturan-aturan yang berlaku
pun mulai bergeser meski juga tidak menyalahi norma yang tetap dianggap baku.
Mulailah kemudian trend yang berkembang adalah pernikahan dengan usia yang
relatif sama. Meski tidak selalu, tetapi biasanya proses ini dimulai dari
kesamaan visi, kesamaan jenjang pendidikan, pekerjaan atau bahkan hanya bermula
dari pertemanan semasa di bangku pendidikan. Memang tidak persis sama usia
diantara keduanya, dan biasanya terpaut hanya dua atau tiga tahun. Namun
kondisi yang demikian masih bisa dibilang relatif sebaya.
Dan kini, warisan norma-norma dari leluhur yang demikian
ternyata masih terus dipegang (dipatuhi) kalangan muda -khususnya wanita- bahwa
mereka harus mendapatkan calon pendamping, orang yang akan menjadi pemimpin
keluarganya dengan salah satu kriteria bakunya adalah usia yang lebih dewasa.
Hal ini masih terlihat di masyarakat kita, baik berupa ungkapan-ungkapan yang
tersirat, maupun dari profil-profil yang seringkali kita jumpai di berbagai
biro jodoh. Ambil satu contoh profil dari sebuah biro jodoh Islami di Jakarta,
"Calon yang saya harapkan tidak sekedar yang beraqidah dan berakhlak baik,
tetapi juga yang lebih dewasa, bijak dalam bertindak dan bersikap jujur, sholeh
..."
Sementara disisi lain, tidak sedikit ditemui
pasangan-pasangan yang tidak mempedulikan faktor usia tersebut. Selama ada
kecocokan, kematangan dan kedewasaan berpikir dari lelaki yang berusia lebih
muda dan yang terpenting, sikap enerjik, penuh semangat dan berjiwa muda dari
si wanita, kenapa tidak? pikir mereka.
Menikah Dengan Yang Lebih Muda, Bukan Masalah
Mungkinkah seorang wanita menemukan cintanya pada seorang
laki-laki yang usianya lebih muda? dan pada akhirnya jika terjadi pernikahan
diantara mereka, dapatkah cinta yang memagari mahligai rumah tangga itu
bertahan selamanya dan atau bahkan menjadi yang terakhir? (Kompas Cyber
Media/KCM)
Jawabnya, tentu saja mungkin. Simaklah sebuah pertanyaan
dalam sebuah rubrik konsultasi keluarga berikut; "Ustadz, saya ingin
menikah dengan seorang wanita janda beranak dua. Tetapi wanita ini usianya kurang
lebih 40 tahun dan saya jelas 26 tahun. Kami memang berdua saling mencintai.
Langkah-langkah apa yang harus saya perbuat dengan dia setelah seumpanya kami
berdua jadi nikah nanti?". Dan dengan bijak sang Ustadz menjawab;
"Alhamdulillah, anda lebih mirip dalam mengikuti jejak langkah Nabi SAW
daripada saya sendiri. Nabi SAW menikah pertama kali dengan Khadijah RA yang
janda berusia 40 th dengan sekian anak dari suami-suami sebelumnya. Perkawinan
Beliau SAW dengan Khadijah RA adalah perkawinan yang berkah luar biasa
..."
Contoh diatas memberi bukti bahwa bukan tidak mungkin
seorang wanita yang bahkan sudah mempunyai anak dari suami sebelumnya (entah
bercerai atau karena si suami meninggal) mendapatkan kembali sebuah cinta yang
menjadi ruh bagi rumah tangganya. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana pasangan tersebut menyiasati perbedaan usia yang mau tidak mau sudah
pasti menciptakan gap antara mereka.
Selain itu, cukup penting untuk diketahui faktor-faktor yang
menyebabkan hal ini bisa terjadi di luar faktor Allah -adalah bahwa Allah yang
maha berkehendak atas setiap makhluk-Nya-. Artinya, ada faktor dari si
manusianya sendiri yang memegang peranan cukup signifikan sehingga
"hubungan unik" ini bisa terjadi. Jika si wanita adalah orang yang
penuh semangat, enerjik, berjiwa muda dan menyukai hal-hal yang penuh tantangan
sebagai cerminan dari jiwa petualangnya, tentu hal-hal demikian akan mampu
menyembunyikan goretan-goretan usia tuanya. Ia bisa tampil lebih fresh, lebih
muda meski usianya menginjak usia diatas 35. Jadi sebaiknya, para wanita yang
belum menemukan jodoh di usianya yang menginjak kepala tiga, tak ada salahnya
untuk memperbaiki penampilan untuk lebih fresh, lebih enerjik dan penuh
semangat.
Mengutip sebuah artikel di KCM, Judith Sherven, PhD, penulis
The New Intimacy: Discovering the Magic at the Heart of Your Relationship
mengatakan, dinding pemisah akibat perbedaan usia, tentu saja ada, dan harus
diakui. Anda sangat naif jika menganggap perbedaan umur yang mencolok bukan
masalah.
Jika pasangan Anda empat atau lima tahun lebih muda atau
lebih tua, maka perbedaan itu tidak banyak pengaruhnya. Namun, jika pasangan
Anda sepuluh atau duapuluh tahun lebih tua atau lebih muda daripada Anda, maka
perbedaan ini bisa menghasilkan kesulitan-kesulitan, tambah Sherven.
"Pasangan yang lebih tua, cenderung memiliki energi dan
waktu lebih sedikit dan mungkin tidak lagi tertarik mengeksplorasi hal-hal
baru. Pasangan yang lebih muda mungkin ingin ber- rock and roll sepanjang malam
bersama kawan-kawan seusianya. Tentu saja ini membosankan bagi yang lebih
tua," ujar Sherven lagi.
Namun seberapa besar gap itu? Tergantung bagaimana pasangan
tersebut menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada. Dinikmati saja, atau dibuat
frustasi? Pertanyaan paling penting yang harus diajukan diantara pasangan ini,
menurut Sherven adalah: "Siapakah kamu?" Tentu saja dalam arti luas,
menyangkut pandangan hidup, pekerjaan, keluarga, kesukaannya, gaya hidup, dan
lain-lain. Dan ini sangat membantu memahami perbedaan yang ada.
Wanita yang lebih tua menawarkan kebijaksanaan, dan
pengalaman. Laki-laki yang lebih muda menawarkan ide-ide baru, khususnya
tentang peran-peran dalam keluarga.
Diane Smith, seorang perawat di Inggris berusia 44 tahun
yang menikah dengan laki-laki yang 14 tahun lebih muda mengatakan, "Anda
tahu, laki-laki seusia saya, selalu mencari wanita yang dapat merawatnya,"
katanya. "Saya sendiri menginginkan laki-laki yang dapat menjaga dirinya
sendiri." (KCM)
Yang tidak ia mengerti adalah mengapa laki-laki itu
memilihnya, sementara banyak wanita muda dengan bentuk tubuh indah dan segar
berkeliaran di luar sana. "Wanita sungguh tidak dapat mengerti, mengapa
laki-laki menginginkan yang lebih tua, ketika keadaan mereka sendiri masih muda
dan segar bugar. Apalagi masih banyak wanita muda dan cantik," ujarnya.
Agaknya, lanjut Smith, laki-laki yang jatuh cinta pada
wanita lebih tua cenderung melihat bahwa gadis-gadis cute itu sangat muda,
manja dan lugu, bahkan terkadang bodoh. Sementara laki-laki berkembang dan
tumbuh dengan menginginkan kesempurnaan, pemahaman, pengalaman, pengetahuan,
sesuatu yang bisa diberikan oleh wanita yang lebih tua usianya, katanya.
Laki-laki yang lebih tua, kadang mencari gadis-gadis muda
untuk membuatnya merasa kuat, jantan dan powerfull. Tidak demikian halnya
dengan wanita lebih tua yang menikahi laki-laki muda. "Tidak seperti
laki-laki, ego seperti itu tidak penting bagi wanita," kata Smith.
"Yang terpenting bagi kami adalah menemukan seseorang yang mencintai dan
bisa menjadi teman terbaik," tambahnya.
Hmm ... semakin banyak kesamaan yang Anda miliki dan semakin
tinggi komitmen yang Anda sepakati, semakin besar pula peluang yang Anda miliki
untuk bisa mempertahankan hubungan itu. Jadi, kenapa tidak?
Sumber : KCM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar